Kamis, 15 Oktober 2009

CARA ANDAL JADI TENAR


"MAS, ajarin menulis dong." Inilah kata-kata banyak teman yang kerap ditujukan kepada saya dalam berbagai kesempatan setelah mengetahui saya sering menulis di blog dan note di Facebook.

Dilatarbelakangi permintaan-permintaan itulah yang antara lain mendorong saya untuk menulis buku "CARA ANDAL JADI TERKENAL -- Kreatif Menulis Efektif di New Media." Buku ini diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama dan telah beredar di toko buku sejak tanggal 13 Oktober 2009.

Namun di luar itu, saya termotivasi menulis buku ini juga lantaran dorongan teman-teman saya, seperti Putu Laxman dan Andrias Harefa yang menjunjung tinggi semangat betapa pentingnya melestarikan gagasan dan pengetahuan lewat sebuah karya tulis. Diakui atau tidak, buah pikiran yang tertuang dalam tulisan sedikit banyak ikut mempengaruhi peradaban sebuah bangsa. Kita tidak bisa bayangkan, apakah mungkin ada kitab suci jika tidak ada orang yang tergerak untuk menulis.

Oleh sebab itulah ketika new media, seperti Facebook, blog, Twitter, Flixter, citizen journalism, web dan sebagainya merambah kehidupan manusia di era teknologi informasi komunikasi seperti sekarang, saya berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan medium ala dunia maya itu. Selain gratis, new media ini ternyata sangat efektif untuk membentuk opini publik dan ujung-ujungnya mengangkat dan mengharumkan nama kita. Cepat atau lambat, kita pun menjadi terkenal, bahkan kaya.

Dosa rasanya kalau saya tidak berbagi pengalaman menyenangkan itu kepada banyak kawan, terutama yang minta dipandu bagaimana kreatif menulis di new media.

Untuk memudahkan bagi yang membaca buku tersebut, saya sangaja merangkai kalimat dan tips bagaimana menulis dengan bahasa santai atau bersahaja dengan contoh-contoh sederhana. Karenanya buku ini juga cocok buat mahasiswa komunikasi, khususnya jurnalistik, yang belajar bagaimana menulis berita (ada bab khusus tentang citizen journalism). Di bab ini, saya memberikan panduan bagaimana memilih jenis-jenis lead yang komunikatif.

Tidak bisa dimungkiri, keterampilan menulis kini diperlukan oleh siapa pun jika kita tidak mau dianggap gagap di era teknologi informasi komunikasi. Mengirim SMS, kita harus menulis. Membuat status di Facebook, mau tidak mau kita harus berpikir bagaimana menyusun kalimat. Apalagi mengungkapkan gagasan lewat blog, surat pembaca, berpartisipasi di jurnalisme warga (citizen journalism), dan sebagainya, wajib hukumnya bagi siapa pun untuk bisa menulis.

Banyak orang bilang, menulis itu sulit? Membaca buku ini, saya jamin, Anda akan berkata sebaliknya: gampang banget, karena saya mengungkapkan apa dan bagaimana duduk perkaranya.

Namun di luar itu, motivator Arvan Pradiansyah dalam komentarnya (endorsment) di buku saya mengingatkan, tujuan hidup kita bukanlah untuk terkenal tapi untuk berbagi dan memberi manfaat bagi orang lain. "Dalam buku ini Gantyo membeberkan tips-tips yang menarik dan berharga dalam memanfaatkan new media, seperti Facebook untuk berbagi. Menjadi terkenal dengan demikian hanyalah sebuah konsekuensi logis dari tindakan berbagi," kata penulis buku best-seller The 7 Laws of Happiness & Host Talkshow Smart Happiness di SmartFM Network ini.

Teman saya Djadjat Sudradjat, Pemimpin Redaksi Lampung Post di buku saya membuat catatan pengarang Inggris klasik Emily Bronte hanya menulis satu novel berjudul Wuthering Heights, tapi fiksi semata wayang itu melambungkan setinggi bintang pengarangnya.

Padahal, Bronte lahir dan hidup di Inggris abad 19. Bayangkan jika ia hidup sekarang ketika dunia maya telah menyatukan kita. Pasti namanya akan amat cepat menjulang di seantero jagat. 

Barack Obama dan JK Rowling adalah contoh lain yang mendapat berkah luar biasa dari menulis di zaman ini. Nama Obama melambung, selain karena kapasitas kepemimpinan yang kuat, juga karena buku Dreams From My Father: A Story of Race and Inheritance dan The Audacity of Hope; Thoughts on Reclaming The American Dream, laris-manis. JK Rowling, sang pengarang Harry Potter, kini menjadi salah satu perempuan terkaya dan paling popular di dunia. 

Djadjat mengatakan, selain melambungkan nama juga bisa mendatangkan banyak fulus. Tidak terkecuali menulis di jejaring sosial Facebook, dunia yang dalam waktu sekejap, jika cerdik memanfaatkannya, bisa melambungkan siapa saja.  

"Gantyo tidak sekadar ngecap, tapi memberi contoh. Ia wartawan dan pengajar yang tak pernah bosan belajar; wartawan senior yang semangatnya tak pernah kendor. Baginya hidup adalah menulis. Sebab, ia nikmat dan profit, karena itu terlalu sayang untuk tidak dicintai! Inilah Cara andal untuk menjadi tenar," katanya. Terimakasih Kang Djadjat.

Sedangkan di mata Andrias Harefa, penulis 30 buku sest-seller, buku "CARA ANDAL JADI TENAR" meneguhkan kembali pandangannya bahwa menulis itu untuk semua orang. Medianya bisa apa saja, termasuk pesan pendek (SMS), surel (email), milis, situs, blog, dan belakangan fesbuk, atau yang lainnya. 

"Seperti halnya berenang dan bersepeda, menulis tidak memerlukan bakat khusus, kecuali bila targetnya menjadi penulis kelas dunia. Dengan menyimak buku ini, saya harap pembaca akan segera terdorong untuk menulis dan tetap menulis untuk menyatakan kehadiran di planet bumi ini. Bacalah!," katanya.

Christovita Wiloto, Managing Partner PowerPR berkomentar, sebuah fenomena yang luar biasa di era saat ini. Seperti juga Facebook, buku terbaru Gantyo ini, tulis Christov dalam komentarnya, juga merupakan terobosan di dunia komunikasi. "Sangat fresh, hot sesuai konteks saat ini. Idenya yang sangat strategis dikemas dengan sangat praktis dan mudah dicerna," katanya.

Terimakasih kawan-kawan.

 



Senin, 31 Agustus 2009

INDONESIA YANG KUCINTAI, ENGKAU KUHARGAI

Catatan Gantyo Koespradono

SETIAP menjelang HUT Kemerdekaan RI, senang sekali saya mendengar lagu "Tanah Airku", ciptaan Saridjah Niung Bintang Soedibio (Ibu Soed) yang syairnya seperti ini:


Tanah airku tidak kulupakan/Kan terkenang selama hidupku/Biarpun saya pergi jauh/Tidak kan hilang dari kalbu/Tanahku yang kucintai/Engkau kuhargai//. Walaupun banyak negeri kujalani/Yang masyhur permai dikata orang/Tetapi kampung dan rumahku/Di sanalah kurasa senang/ Tanahku tak kulupakan/Engkau kubanggakan//.

Saya tidak mendapatkan informasi, kapan lagu itu diciptakan Ibu Soed yang lahir di Sukabumi, 26 Maret 1908. Yang pasti sebelum Indonesia merdeka dan pasca kemerdekaan, Ibu Soed banyak menciptakan lagu perjuangan dan lagu anak-anak.

Menyimak syair lagu Tanah Airku, saya semakin yakin bahwa Indonesia itu indah, kaya dan "ngangeni" (bahasa Jawa yang artinya bikin kangen), apalagi buat putra-putra Indonesia yang berada di luar negeri.

Indonesia tidak saja kaya dan indah wilayahnya, tapi juga kaya dengan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Bayangkan, dari sekian banyak suku, semuanya memiliki kesenian dan produk seni yang berbeda satu dengan lainnya. Jawa Tengah punya tari Serimpi, pertunjukan Ketoprak, Wayang Orang, Wayang Kulit dan sebagainya; Jawa Timur punya Reog Ponorogo; Bali punya tari Pendet, tari Kecak; Jawa Barat punya Jaipongan; Sumatera Barat (Minangkabau) punya tari Piring; di Aceh ada tari Saman.

Di dunia kuliner, Indonesia punya sayur lodeh, oblok-oblok, semur, karedok, gado-gado, bubur Manado, rendang, tongseng, gulai, garang asem, ketupat sayur, asinan, sayur asam, pecel, ketoprak, rawon, soto (dengan beragam jenisnya), tempe bacem, opor, dan masih banyak lagi. Ini semua adalah kekayaan bangsa Indonesia.

Peralatan penunjang seni, Indonesia punya gamelan, kolintang, angklung, tanjidor (Betawi), kecapi, dan lain-lain. Di bidang karya seni, kita punya batik, kain songket, kain kebaya, dan masih banyak lagi.

Masih di dunia seni, setiap suku bangsa punya lagu daerah yang syair dan iramanya indah. Sebelum kita lahir, semuanya itu sudah ada. 

Sayang memang, kita tidak pernah menyadari bahwa kita sesungguhnya kaya, sehingga tatkala negara tetangga Malaysia mencuri atau mendaku apa yang kita miliki, kita baru tersadar dari tidur kita. Kita bisa membuat atau membangun, tapi tidak bisa memelihara, karena menganggap semua itu bukan apa-apa dan biasa-biasa saja.

Celakanya, Indonesia hingga saat ini, sebagaimana dilaporkan koran Kompas (31 Agustus 2009), tidak memiliki data lengkap mengenai seni budaya yang tersebar di setiap daerah. Perlindungan hak cipta terhadap seni budaya juga sangat lemah, sedangkan publikasi multimedia secara internasional mengenai produk seni budaya masih sangat minim.

Dari 33 provinsi yang ada di Tanah Air, masih menurut kesimpulan Kompas, baru tiga provinsi, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang melakukan inventarisasi seni budaya mereka. Hasilnya, terdapat sekitar 600 seni budaya yang ada di ketiga provinsi tersebut.

Akibat berbagai kelemahan ini, seni budaya Indonesia sering diklaim negara lain. "Karena datanya lemah, Indonesia tidak berdaya," kata guru besar emeritus Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung, Eddy Damian, ahli mengenai hak kekayaan intelektual sebagaimana dikutip harian itu.

Belum Dilakukan Indonesia


Padahal, menurut Damian, jika memiliki daftar kekayaan intelektual termasuk seni budaya, daftar itu bisa disampaikan kepada Organisasi Hak Kekayaan Intelektual Dunia di Geneva untuk mendapat pengakuan internasional. Namun sayangnya, hal itu belum dilakukan Indonesia.

Pemerintah sebenarnya juga bisa melakukan publikasi multimedia secara internasional secara besar-besaran, baik melalui televisi, internet, media luar ruang maupun buku-buku mengenai seni budaya. Hal inilah yang dilakukan Malaysia, dan saking getolnya -- sementara stok kekayaan intelektualnya terbatas -- produk kesenian Indonesia dari Bali Tari Pendet pun didaku dan dijadikan tayangan iklan televisi untuk mempromosikan pariwisata.

Melalui publikasi dan penyajian data yang baik di lembaga internasional, klaim pihak asing terhadap seni budaya Indonesia bisa dihindarkan, kata Agus Sarjono, pakar folklor yang juga pengajar hukum dagang dan hak atas kekayaan intelektual di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Sebagaimana pernah saya tulis di blog saya, dalam soal begituan, Malaysia memang proaktif dan "kreatif". Selain melakukan promosi seni budaya melalui televisi, internet, iklan luar ruang, dan media lainnya, Malaysia juga menerbitkan buku-buku seni budaya. Selain buku terbitan pemerintah, swasta dan pemerintah kerajaan di negara bagian juga sangat antusias menerbitkan berbagai buku.

Murah dan Gratis

Kesadaran untuk mempublikasikan karya seni yang merupakan hak kekayaan intelektual (HKI) kita memang lemah, padahal kalau mau, biayanya murah, bahkan gratis. Pasalnya medium untuk mengupload atau mempromosikan karya-karya kita sudah ada di depan kita (internet). Untuk mendokumentasikan film misalnya, ada situs Youtube; mau menyimpan lagu-lagu ada IMEEM atau MYSPACE. Punya situs sendiri tentu lebih bagus.

Sadar bahwa HKI penting dan rawan dicuri, saya mendokumentasikan lagu-lagu ciptaan saya -- terlepas bermutu atau tidak -- ke situs IMEEM.COM. Begitu ter-upload ke situs ini, maka siapa yang mendaftarkan, kapan didaftarkan tercatat dengan jelas.

Mengetahui Indonesia tidak begitu peduli dengan karya-karya kreatifnya, pelan tapi pasti Malaysia menelikung Indonesia di saat dunia sedang mengembangkan ekonomi berbasis industri kreatif.

Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono telah mencanangkan ekonomi kreatif dalam kurun waktu 2010-2025, karena kontribusi industri kreatif bagi pendapatan domestik bruto (PDB) nasional sangat besar, ratusan triliun rupiah.

Jadi cercaan dan makian seperti "Malingsia" yang belakangan beredar di Facebook, juga makian Permadi di televisi atas Malaysia tidak ada artinya kalau kita tidak peduli atas karya nenek moyang kita. Semoga semua itu menginsipirasi dan memotivasi kita untuk peduli kepada HKI.

Tanahku (Indonesia) yang kucintai, engkau kuhargai. Saya teringat lagi syair lagu ciptaan Ibu Soed. *** 

Selasa, 25 Agustus 2009

HIKMAH DI BALIK ULAH MALAYSIA

Catatan Gantyo Koespradono

BANGSA Indonesia sangat kreatif dalam menciptakan sesuatu. Namun fakta tak terbantahkan, Malaysia-lah bangsa yang kreatif memanfaatkan kreativitas orang Indonesia, sehingga bernilai ekonomi tinggi. Persoalannya, sampai kapan?


"Mencuri" kreativitas anak bangsa Tari Pendet dan menjadikannya sebagai iklan pariwisata, Malaysia berpotensi meraup ringgit atau dolar yang kalau dirupiahkan bisa mencapai Rp 110 triliun.

Nilai itu berarti sama dengan jumlah pendapatan domestik bruto (PDB) nasional dari industri kreatif pada tahun 2002-2006 yang rata-rata mencapai Rp 100 triliun.

Kita tersentak dan baru menyadari bahwa kita mempunyai kekayaan budaya dan sejenisnya tatkala orang lain "mengganggu" apa yang kita miliki.

Meskipun iklan promosi wisata Malaysia yang berilustrasi Tari Pendet telah dicabut dan tidak lagi ditayangkan di Discovery Channel, fakta tidak bisa dimungkiri bahwa negara tetangga itu punya kebiasaan buruk dan "kreatif" mengklaim karya cipta milik bangsa Indonesia.

Sebelum mencuri Tari Pendet, Malaysia pada Juli 2007 mengklaim musik khas Jawa Barat Angklung sebagai miliknya dengan sebutan "music bamboo malay."

Masih di tahun yang sama, tepatnya bulan September, lagu Jali-Jali yang asli Betawi diubah berversi Melayu, dan disebut-sebut berasal dari Langkawi.

Sebulan kemudian (Oktober), ulah Malaysia kembali mengusik hak kekayaan intelektual (HKI) milik bangsa Indonesia, karena hak paten batik telah berada di tangan mereka.

Tak puas dengan batik, wayang kulit yang jelas-jelas menjadi pertunjukan khas masyarakat Indonesia, khususnya yang berasal dari Jawa juga diklaim Malaysia sebagai miliknya. Pada 4 Oktober 2007, Menteri Kebudayaan Malaysia Rais Yatim mengklaim bahwa wayang kulit tidak ada kaitannya dengan Indonesia, tetapi berasal dari tradisi Hinduisme.

Malaysia dengan "kreativitasnya" kembali membuat rasa kebangsaan kita terusik. Pasalnya, lagu Rasa Sayange (Maluku) digunakan Departemen Pariwisata Malaysia untuk mempromosikan objek wisata mereka. Menteri Pariwisata Adnan Tengku Mansor berkeras bahwa Rasa Sayange merupakan lagu kepulauan Nusantara, termasuk Malaysia.

Ah, lagi-lagi Malaysia. Pada 25 Oktober 2007, lagu Indiang Sungai Garinggiang (Sumatera Barat) diklaim Malaysia dalam acara forum Asia Festival 2007 di Tokyo.

Pada November 2007, Reog Ponorogo yang sangat khas Jawa Timur-an itu juga diklaim sebagai milik Malaysia. Setelah kita ribut, Dubes Malaysia Zainal Abidin akhirnya mengakui Reog Ponorogo berasal dari Indonesia. Sedangkan kesenian serupa yang ada di Johor dan Selangor dikenal sebagai Tari Barongan.

Sebelum ribut-ribut soal Tari Pendet, pada April 2009 di acara Enigmatic, Malaysia, keris, senjata khas kerajaan Jawa itu juga diklaim sebagai senjata khas kerajaan Melayu dan memiliki nilai tinggi dalam sejarah negara Malaysia.

Sah-sah saja kita sewot dan marah kepada Malaysia yang sangat proaktif dan "kreatif" mengklaim HKI milik bangsa Indonesia. Namun sewot, apalagi amuk, sampai kapan pun tetap tidak menyelesaikan masalah. Ada pelajaran yang sangat berharga dari apa yang dilakukan Malaysia, yaitu munculnya kesadaran bahwa kita sesungguhnya kaya, dan jika kekayaan ini tidak kita pedulikan, pihak lain yang akan memanfaatkan. Sesuatu yang selama kita anggap tidak bernilai, dan jika kita kelola dan kita hargai sebagaimana mestinya, ternyata bisa mendatangkan nilai ekonomi yang tinggi.

Sayang memang, kita tidak terlalu bangga dengan karya cipta agung anak bangsa sendiri. Coba perhatikan iklan-iklan produk dalam negeri di televisi, berapa banyak ilustrasi musiknya yang asli buatan anak-anak negeri? Coba amati musik pengantar (jingle) program acara televisi, adakah kreativitas anak-anak Indonesia? Rasanya tidak banyak. Padahal sesungguhnya kita punya kemampuan untuk itu. Kita selama ini terlalu terpukau bahwa segala sesuatu yang berbau "barat" lebih berbobot dan bernilai jual tinggi.


Kreativitas Nenek Moyang

Di luar soal-soal di atas, Indonesia mempunyai produk kreatif yang juga tak kalah hebat dengan produk kreatif di bidang musik, teknologi, budaya dan sebagainya. Produk kreatif ini yang menciptakan adalah nenek moyang kita, yaitu beragam jenis masakan dan makanan.

Tak terhitung betapa banyak nama makanan khas Indonesia yang berasal dari daerah. Ada lodeh, rendang, rawon, soto, kare ayam, oblok-oblok, karedok, gado-gado, garang asam, ketupat sayur, opor, bubur ayam, ketoprak, laksa, dan entah apa lagi.

Ingat semua itu adalah produk asli kreativitas bangsa Indonesia. Jangan sampai kita lengah, sehingga Malaysia di kemudian hari "memakan" hak cipta produk kuliner nenek moyang kita.

Colonel Sanders punya ayam goreng Kentucky yang membuat bangsa Amerika kaya. Kreativitas Bill Gates, selain membuat dirinya kaya, juga mengharumkan bangsa Amerika. Mereka kaya karena sadar betul betapa pentingnya sebuah temuan (HKI).

HKI jika sedari awal sudah dipahami sangat penting, terbuki memang memberikan nilai ekonomi buat sang empunya. Firmansyah Budi Prasetyo adalah contohnya. Lulusan Fakultas Hukum, Universitas Gajah Mada ini menemukan Tela Krezz, dan dari temuannya ini dia sekarang kaya raya. Omsetnya per bulan mencapai Rp 2 miliar.

Apa yang dilakukan Prasetyo pantas kita jadikan acuan bagaimana memperlakukan HKI. Ujung-ujungnya Tela Krezz telah memilki lebih dari 300 gerai. Bisnisnya kebal dari krisis karena bahan bakunya tidak impor. Usaha kecil seperti ini terbukti mampu menyangga perut rakyat saat krisis ekonomi menimpa bangsa ini pada 1998.

Pemerintah melalui Inpres No 6 Tahun 2009 telah mencanangkan tahun 2010-2025 sebagai tahun ekonomi kreatif. Belajar dari bangsa-bangsa lain -- juga dari ulah Malaysia -- kreativitas terbukti mampu membangkitkan perekonomian sebuah negara.

Lewat Inpres itu, Presiden antara lain memerintahkan Menteri Perdagangan agar mendorong interaksi intensif antara bisnis, pemerintah, cendekiawan, budayawan dan seniman, dengan lembaga pembiayaan dalam mengembangkan skenario pembiayaan yang efektif bagi industri kreatif.

Kita tunggu, Inpres tersebut dilaksanakan tidak saja secara konsisten, tapi juga konsekuen, sehingga industri kreatif, orang-orang kreatif di negeri ini dapat memberikan sumbangsihnya bagi pertumbuhan ekonomi negara.***



Sabtu, 22 Agustus 2009

SEKARANG! SEBELUM DICAP TIDAK JANTAN

Catatan Gantyo Koespradono


Rata PenuhSEORANG teman Facebook belum lama ini uring-uringan. Di statusnya dia menulis: “Dasar tidak tahu diri, karya orang lain diaku-aku sebagai karyanya. Kalau jantan jangan begitu dong!”


Tidak lama kemudian dia curhat kepada saya dan minta petunjuk bagaimana menyadarkan orang yang dituding telah “menculik” karyanya, yaitu sebuah artikel yang pernah ditulisnya tapi belum sempat dimuat di majalah tempatnya bekerja.

Dia menjelaskan bahwa sebelum keluar dari majalah tersebut, dia meninggalkan sebuah artikel. Dia mengira, artikel karyanya tidak lagi berharga setelah dia memutuskan keluar dari majalah itu.

Apa yang dikira ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Sebulan setelah dia cabut dari majalah itu, artikelnya tetap dimuat di majalah tersebut, namun tidak lagi mencantumkan namanya sebagai sang pembuat karya, tapi telah berganti nama. Ironisnya, nama baru yang mengaku-ngaku sebagai penulis artikel bikinannya itu adalah temannya sendiri yang masih bekerja di majalah itu.

Pesan-pesan dalam chatting-nya sangat keras. Dia benar-benar tidak rela karyanya dicuri begitu saja tanpa etika. Saya akhirnya menyarankan agar dia menulis surat kepada sang atasan temannya tadi dan berbicara secara terbuka agar perbuatan tercela itu tidak lagi dilakukan.

Kasus plagiat seperti itu sebenarnya bukan barang baru dalam dunia hak kekayaan intelektual (HKI), apalagi di dunia maya.

Suatu kali saya pernah menulis artikel di blog saya tentang Megawati Soekarnoputri yang berani tampil bicara blak-blakan dalam acara Kick Andy di Metro TV. Saya menulis panjang lebar artikel tersebut.

Sehari kemudian artikel itu muncul apa adanya lengkap dengan titik komanya di sebuah situs tanpa mencantumkan nama saya, juga blog tempat di mana artikel itu dicopy-paste.

Buat saya, itu bukan masalah, sebab aksi plagiat hak kekayaan intelektual saya itu dicopy-paste bukan untuk tujuan komersial.

Namun yang membuat saya kecewa adalah ketika mengetahui bahwa buku yang saya tulis Kick Andy—Kumpulan Kisah Inspiratif yang diterbitkan Bentang Pustaka ternyata telah diketik ulang dan dijual sebagai e-book di internet. Aksi ini selain merugikan penerbit, juga merugikan saya sebagai penulis, karena peluang mendapatkan royalti berkurang.

Beberapa bulan setelah buku tersebut terbit, saya pun “terpasung”, sebab nama saya telah didaftarkan sebagai domain tanpa sepengetahuan saya oleh pihak lain ke wordpress. Gara-gara aksi “sabotase” ini saya tidak bisa mendaftarkan ke wordpress untuk membuat blog dengan domain nama saya. Ini kasusnya sama dengan ketika BCA akan memakai nama “klikbca” dan “clicbca.”

Dunia cipta mencipta dan hak kekayaan intelektual yang melekat pada si pencipta dan si pemilik nama di Indonesia memang masih serba abu-abu. Bahkan hitam buat si pemilik HKI, karena hak kepemilikannya kerap dicuri (dibajak) dan dilanggar, meskipun negeri ini sudah punya undang-undang yang mengatur soal itu.

Celakanya, aksi pembiaran ini sudah diketahui dan dipraktekkan oleh anak-anak kita. Ini fakta di depan mata. Anak saya mengoleksi banyak lagu Indonesia yang dia unduh entah dari situs apa. Dia melakukan ini semua tanpa mengeluarkan uang sepeser pun kecuali untuk keperluan menyewa waktu (Rp 4.000 per jam) di warnet guna mendownload lagu-lagu yang dia sukai.

Sering saya menegur anak saya agar membeli CD asli lagu-lagu yang dia sukai. Untuk menyadarkannya, saya berandai-andai sayalah yang menciptakan dan menyanyikan lagu tersebut. “Ayah memang bangga lagu ayah diputar di mana-mana. Tapi ibarat jualan, ayah tidak mendapatkan apa-apa, karena lagu yang diputar itu adalah barang curian,” kata saya.

Mendengar ocehan seperti itu, anak laki-laki saya yang telah berstatus mahasiswa tidak banyak berkomentar. Dia cuma bilang, “habisnya CD yang asli harganya mahal.”

Jawaban yang amat dilematis. Maka sangat bisa dipahami jika dunia kreativitas di bidang seni (industri kreatif musik) kini lebih banyak bermain di ranah maya dengan menjual “barang dagangan” ring back tone (RBT). Barang dagangan ini terbukti sulit dibajak, karena untuk mendapatkannya harus masuk ke “toko” yang dimiliki content provider dan harus seizin operator telepon.

Ke depan, memang perlu diatur tentang profit sharing-nya. Selama ini pihak yang paling diuntungkan dengan maraknya industri kreatif musik adalah para operator yang telah mematok 50 persen perolehan dari dagangan RBT menjadi haknya. Sedangkan pihak-pihak lain, khususnya pencipta lagu harus rela berbagi dengan mitra lain, seperti penyanyi, pemusik, content provider dan label (perusahaan rekaman).

Dunia pustaka dalam rangka mengeliminasi aksi pembajakan buku juga telah masuk ke ranah industri kreatif penerbitan buku. Barang dagangannya adalah mobile book. Novel Kapal Kertas yang ditulis novelis Dewi Lestari telah dimasukkan ke industri kreatif mobile book ini. Menurut Media Indonesia, novel penulis Supernova itu telah diunduh oleh sedikitnya 600.000 pelanggan.

Penasaran dengan peluang di industri kreatif kepustakaan ini, Juli 2009 lalu buku saya Cara Elegan Menjadi Narsis di Facebook juga telah diluncurkan oleh content provider mobile book ini.

Saya belum tahu prospek (nilai eknomis) dari penjualan mobile book saya itu, sebab nilai royalti sesuai dengan perjanjian, baru saya ketahui Oktober 2009 nanti. Namun saya optimistis, prospeknya bakal cerah, sebab membaca buku di handphone lebih praktis. Cara mendownload-nya juga mudah. Harganya juga murah, Rp 5.000 per unit. Karena buku saya dibagi dalam 8 unit, maka total Rp 40.000. Tetap jauh lebih murah dibandingkan jika buku itu dicetak di atas kertas yang di toko buku, harganya bisa menjadi Rp 50.000.

Lebih dari itu industri kreatif mobile book, selain ramah kantong, juga ramah lingkungan, karena betul-betul paperless. Namun lagi-lagi sang pemilik HKI belum dihargai sebagaimana yang dirindukan, sebab operator masih mematok profit sharing 50 persen menjadi haknya.

Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mencanangkan tahun 2010-2025 sebagai tahun ekonomi kreatif. Guna mendukung tahun ekonomi kreatif itu, SBY telah mengeluarkan Inpres Nomor 6 Tahun 2009.

Banyak aspek yang diatur dalam Inpres tersebut. Tapi intinya negara ingin industri kreatif ini dapat benar-benar tumbuh dan berkembang, sehingga dapat terus memberikan kontribusi siginifikan buat perekonomian negara.

Bukan main-main! Industri kreatif yang selama ini berkiprah di Tanah Air telah menyumbangkan sedikitnya Rp 104 triliun bagi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional pada kurun waktu tahun 2002-2006.

Dalam butir 27 Inpres itu, Presiden menginstruksikan kepada Menteri Perdagangan agar memberikan apresiasi/penghargaan kepada insan kreatif secara berkesinambungan. Dalam poin lainnya, Inpres juga mengatur agar pihak-pihak terkait menyusun dan mengimplementasikan kebijakan mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) secara konsisten, efisien, dan mengedepankan muatan ekonomi di dalam HKI.

Inpres juga mengatur untuk memantapkan landasan interaksi bisnis antara perusahaan dengan individu-individu kreatif berupa standar kontrak bisnis yang menghargai HKI (sistem royalti, pencegahan, plagiarisme, dan lain-lain).

Semoga semua itu dapat menjadi angin segar buat para pemilik HKI di Indonesia. Ekonomi kreatif akan terwujud dan menjadi tepat sasaran jika penghargaan atas hak kekayaan intelektual dibudayakan mulai sekarang. Ya, sekarang, sebelum kita dicap tidak jantan seperti yang dikeluhkan teman saya yang karyanya dicuri oleh orang lain. ***











Rabu, 19 Agustus 2009

KREATIVITAS SEMOGA 'GAK ADA MATINYE'

Catatan Gantyo Koespradono

VIRUS kreativitas tahun ini telah disebarkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono guna menumbuhkan ekonomi kreatif. Sayang memang, selama ini apresiasi kepada sang penemu atau pencipta atas ciptaannya (hak kekayaan intelektual) belum sebanding dengan nilai ekonomi yang diperoleh manakala temuan atau ciptaan sang kreator diwujudkan dalam aktivitas bisnis.



Fakta tidak bisa dimungkiri, sebagaimana sering diungkapkan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, kontribusi industri kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) lumayan besar, mencapai 7 persen yang kalau dirupiahkan lebih dari Rp 100 triliun! Pada periode 2002-2006 saja, industri "karya cipta" itu telah memberikan sumbangan Rp 104 triliun (6,3 persen) dari total nilai PDB nasional.

Nilai itu akan berskala lebih besar menjadi 8 persen jika kontribusi yang bersumber dari ekonomi kreatif rumah tangga dan industri mikro dimasukkan.

Industri kreatif juga telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi 4,5 juta tenaga kerja. Masih menurut Elka Pangestu, jika industri kreatif rumahan dan industri kecil dimasukkan,kreativitas para pencipta itu telah menyerap sedikitnya 7,4 juta orang tenaga kerja. Jumlah tersebut, belum termasuk mereka yang selama ini bergelut di industri musik, film dan games. Pasalnya, kreativitas seni terakhir ini bukan berbentuk apa yang disebut Menteri Perdagangan sebagai barang nyata.

Karena terbukti telah memberikan kontribusi bagi PDB dan penciptaan lapangan kerja, bisa dipahami jika pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono lantas berusaha mengkonkretkan tagline kampanyenya “lanjutkan” untuk urusan kreativitas ini dengan mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2009 dan menetapkan tahun 2010-2025 sebagai tahun ekonomi kreatif.

Melalui Inpres Nomor 6 itu, SBY memerintahkan kepada para menteri, kepala lembaga pemerintah nondepartemen, dan para gubernur, bupati dan walikota antara lain untuk:

1. Mendukung kebijakan pengembangan ekonomi kreatif, yaitu kegiatan ekonomi berdasarkan pada kreativitas, keterampilan, dan bakat individu, dengan maksud untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu, meliputi 14 subsektor industri kreatif, yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video-film-dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi dan radio, riset dan pengembangan.

2. Mengambil langkah-langkah nyata yang diperlukan sesuai bidang tugasnya secara optimal untuk mencapai sasaran pengembangan ekonomi kreatif dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membuka lapangan kerja, memberantas kemiskinan, dan memeratakan pembangunan, misalnya dengan membentuk kelompok kerja yang keanggotaannya terdiri dari pejabat Kementerian/Lembaga, dan unsur lain.

3. Melakukan upaya secara proaktif pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam, sumber daya budaya, dan sumber daya manusia dengan kreativitas, keterampilan, dan bakat individunya untuk pengembangan ekonomi kreatif.

Lewat Inpres itu, secara khusus Presiden juga memerintahkan kepada Menteri Perdagangan untuk menyiapkan informasi yang lengkap di bidang pengembangan ekonomi kreatif; melakukan kajian tentang kurikulum berorientasi kreativitas dan pembentukan entrepreneurship terhadap tumbuhnya kreativitas anak didik, dan melakukan revisi sesuai kebutuhan; meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat lewat kurikulum yang berorientasi kreativitas dan pembentukan jiwa kewirausahaan.

Bukan cuma itu, Menteri Perdagangan juga diperintahkan untuk memberikan dukungan kepada insan kreatif berbakat yang mendapat kesempatan di dunia internasional; memberikan dukungan pada kegiatan dan organisasi seni budaya dan iptek yang berperan dalam industri kreatif; menyelenggarakan acara dan program yang menggali, mengangkat, dan mempromosikan talenta kreatif yang ada di masyarakat; dan membangun mekanisme kemitraan antara insan kreatif terkemuka dan yang potensial untuk dikembangkan lewat proses mentoring.

Nah, ini yang penting. Inpres itu juga memerintahkan Menteri Perdagangan untuk mendukung para entrepreneur kreatif yang membutuhkan kemudahan dalam memulai dan menjalankan usaha, baik dari aspek permodalan, perizinan, maupun pemasaran.

Masih banyak poin penting lain terdapat dalam Inpres No 6 Tahun 2009 yang intinya industri kreatif – termasuk para pencipta – diharapkan semakin berkembang, sehingga karya mereka jika diekonomikan dapat menopang ekonomi negara.

Buku Terbuka

Inpres telah diteken. Inpres No 6 Tahun 2009 ini sekaligus berfungsi sebagai buku yang terus terbuka yang boleh dibaca oleh siapa saja, khususnya para pelaku ekonomi kreatif. Kewajiban kita bersama untuk menjadikan Inpres itu sebagai tools sekaligus alat kontrol.

Dalam waktu dekat, industri kreatif, khususnya dunia pertelevisian akan semakin berkembang seiring dengan kewajiban bagi industri televisi yang sekarang bersiaran nasional untuk memiliki mitra lokal di daerah pada Desember tahun ini.

Tahun 2010, televisi digital juga bakal semakin marak. Sangat mungkin, tahun depan akan muncul puluhan, bahkan ratusan stasiun televisi baru seiring dengan diterapkannya teknologi digital.

Industri televisi jelas membutuhkan program atau konten acara yang layak jual dan mengundang industri kreatif lain, seperti periklanan, seni, teknologi informasi dan sebagainya menjadi sebuah kerumunan atau crowd. Benar, seperti yang pernah dilaporkan majalah Time tahun lalu, para individulah yang memegang peran penting. Facebook, Twitter, Flickr, Google tidak ada apa-apanya jika tidak ada manusia yang kreatif mengisi dengan konten berupa artikel atau informasi-informasi.

Dalam konteks dengan industri kreatif, para teknopreneur-lah yang bakal mendulang sukses, karena merekalah yang akan memainkan peran utama.

Industri televisi digital tidak akan mampu bersiaran jika tidak ada manusia-manusia kreatif yang menawarkan konten berikut teknologi pendukungnya. Industri periklanan tidak mampu menghidupi dirinya jika tidak ada manusia-manusia kreatif pada sektor-sektor yang berbeda.

Ke depan, mereka harus saling bersinergi. Agar bisa sama-sama eksis dan saling mengembangkan diri, di antara mereka, ibarat bus kota sebaiknya tidak saling mendahului; apalagi mau menang sendiri. Untuk ini diperlukan pengertian, terutama terhadap hasil karya cipta seorang kreator.

Harap maklum, dalam soal beginian sebagaimana awal tulisan ini, peran seorang kreator sering dilupakan dan dianggap bukan apa-apa. Contoh paling aktual adalah penghargaan terhadap pencipta lagu di industri telekomunikasi (ring back tone misalnya). Para operator telepon seluler masih menganggap dirinya sebagai “penguasa tunggal” yang berhak atas penentuan bagi hasil. Repotnya, mereka selalu mematok jatah 50 persen, bahkan lebih. Sedangkan sang pencipta lagu hanya kebagian tidak lebih dari 10 persen.

Hal serupa juga berlaku manakala para operator mengadakan perjanjian dengan content provider dan penulis buku untuk program mobile book. Para operator belum apa-apa sudah meminta haknya sebesar 50 persen; sementara 50 persen lainnya dibagi-bagi untuk penulis buku, agensi, content provider, dan biaya promosi. Padahal kreativitas sang penulis mobile book telah mampu menghidupi tidak saja operator telepon, tapi juga pihak-pihak lain.

Para pelaku kreativitas tentunya berharap Inpres No 6 Tahun 2009 dapat menjadi penyelamat. Dalam butir 27 Inpres itu, kepada Menteri Perdagangan, Presiden memerintahkan agar memberikan apresiasi/penghargaan kepada insan kreatif secara berkesinambungan. Dalam poin lainnya, Inpres juga mengatur agar pihak-pihak terkait menyusun dan mengimplementasikan kebijakan mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) secara konsisten, efisien, dan mengedepankan muatan ekonomi di dalam HKI.

“Mantapkan landasan interaksi bisnis antara perusahaan dengan individu-individu kreatif berupa standar kontrak bisnis yang menghargai HKI (sistem royalti, pencegahan, plagiat dan lain-lain),” bunyi lain dari Inpres tersebut.

Meskipun tidak mengatur besaran prosentasenya dalam kontrak bisnis, semoga Inpres No 6 Tahun 2009 bisa menjadi juru selamat bagi para individu kreatif, sehingga teknopreneur di era teknologi informasi komunikasi ini dapat terus eksis dan tumbuh mengisi ekonomi kreatif yang telah dicanangkan bersama.

Semoga pula kreativitas para individu kreatif (meminjam istilah Betawi), “nggak pernah ade matinye.” ***

Senin, 27 Juli 2009

LOVE LOVELY

BAPAKNYA "hanya" bekerja sebagai penjual jeruk keliling, namun sang anak yang bernama Lovely Octavionely mampu membanggakan sang bapak, sebab ia berhasil lolos, masuk ke SMA Negeri Internasional Sumatera Selatan setelah bersaing dengan anak-anak lain yang ?berebut? sekolah gratis di SMA yang distandardisasi Cambridge School, Inggris tersebut.


Koran Kompas yang terbit hari ini (Selasa 28 Juli 2009) menggambarkan bagaimana kondisi orang tua Lovely yang hidup apa adanya. Keluarga Lovely tinggal di sebuah rumah kontrakan. Untuk sampai ke rumah Lovely, tamu harus menyeberangi sebuah jembatan kecil, kemudian berjalan sekitar 100 meter di sebuah lorong sempit. Praktis tidak ada perabotan di rumah tersebut.


Kondisi orang tuanya yang seperti itu tidak mematahkan semangat Lovely untuk belajar dan beprestasi. Nilai mata pelajaran Lovely waktu di SMP rata-rata 81,75. Dia juga juara III lomba hafal Alquran, juara III lomba kaligrafi, juara III lomba menyanyi, dan mewakili SMP-nya dalam lomba olimpiade fisika tingkat kota Palembang.


Banyak anak berprestasi lain yang mungkin sama dengan Lovely, tapi tidak sempat terpantau, baik oleh orang tua, sekolah, lingkungan, maupun negara. Beruntung, Lovely terdeteksi oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Sampoerna Foundation yang menanggung biaya pendidikan Lovely.


Oleh sebab itu saya memberikan apresiasi kepada SMA yang dikelola Yayasan Usaha Peningkatan Pendidikan Teknologi (Yuppentek) Tangerang yang dipilih anak perempuan saya untuk melanjutkan studinya setelah lulus dari SMP swasta dengan NEM 33,95. 


Tidak seperti sekolah swasta lain, secara rutin, sekolah ini juga memberikan beasiswa kepada para siswanya yang berprestasi. Begitu masuk ke sekolah itu, semua siswa baru wajib mengikuti test. 


Belakangan saya ketahui, test itu diadakan untuk menjaring siswa-siswa pandai. Alhamdulillah, puji Tuhan, anak saya terpilih, dia mendapat peringkat ketiga, dan mendapat bonus bebas membayar uang SPP selama lima bulan. Pembebasan SPP ini berlanjut jika siswa bisa mempertahankan dan meningkatkan prestasinya. Sebuah kebijakan yang sederhana, namun sangat bermanfaat, terutama untuk memotivasi anak-anak belajar.


Sebelumnya dengan NEM sebesar itu, anak saya sempat terseok-seok saat mendaftar masuk ke SMA negeri. Setelah tersundul dari sina dan sini oleh para siswa lain yang NEM-nya lebih tinggi ? nggak tahu persis NEM mereka benar-benar murni atau rekayasa ? anak saya akhirnya diterima di SMAN 10 Tangerang, sekolah pilihan terakhir.


Namun begitu akan mendaftar ulang, anak saya berubah pikiran. ?Nggak mau ah, sekolahannya jelek, masuk kampung,? kata anak saya. Sebuah alasan yang mengada-ada dan sulit diterima oleh orang tua.


Setelah saya minta dipertimbangkan ulang, anak saya tetap menolak mendaftar ulang ke SMA negeri dan memutuskan masuk ke SMA Yuppentek.


Seperti halnya masyarakat Tangerang, saya menganggap rendah sekolah swasta ini. Tapi begitu saya menghadiri pertemuan antara orang tua murid baru dengan pihak sekolah, Sabtu (25 Juli 2009), saya mendapatkan kesan yang sangat jauh berbeda.


Semua ruang kelas menggunakan AC. Guru mengajar dengan laptop dan infokus. Satu kelas maksimal 36 murid. Ruang tempat pertemuan kami lumayan mewah bebas makan dan rokok. Gedung atau bangunan sekolah yang terdiri dari tiga tingkat terawat dengan baik.


Kepala Sekolah YM Kodhiat menjelaskan, tak satu pun guru yang merokok. Para siswa pria tak boleh berambut gondrong; dan jika ketahuan oleh guru pengawas, langsung dipangkas di tempat. Pelajaran dimulai pukul 06.30. Tepat jam ini, pintu gerbang sekolah ditutup. Terlambat masuk, siswa disuruh pulang.


Sekolah ini terakreditasi A dan telah berstatus SMA mandiri. Mulai tahun ajaran ini sudah menerapkan moving class, artiya para siswa yang mencari kelas atau guru, bukan sebaliknya.


Pilihan anak saya ternyata tidak keliru, dan semoga dia dapat terus berprestasi di saat banyak anak segenerasinya yang sulit menghargai waktu dan ingin hidup serba instan.


Halo anak-anak, kamu pasti bisa seperti Lovely. Besyukurlah atas apa yang kamu miliki sekarang.***


Selasa, 21 Juli 2009

HAJI PONIMAN KASTURO BELAJAR BERTOBAT

"DIRI kita sekarang adalah produk dari apa yang kita pikirkan kemarin," kata orang bijak. Saya kerap tidak mengerti, mengapa bobot kesuksesan setiap orang berbeda-beda. Yang juga kerap tidak saya mengerti "demi panggilan", banyak orang melakukan "pertobatan" yang sangat revolusioner, bahkan berani untuk tidak populer dan hidup (menurut saya) tidak enak.

Saya punya teman seorang bankir. Lebih dari 10 tahun yang silam dia meniti karier di sebuah bank mapan. Gaji pastinya lebih dari cukup, begitu juga masa depannya. Namun di tengah perjalanan, dia bukan hanya banting setir, tapi banting haluan. Dia memutuskan untuk mengakhiri kariernya sebagai bankir dan menekadkan menjadi pendeta.

Menjadi pendeta, lagi-lagi ini menurut cara pandang saya (belum tentu benar), tidak enak. Yang dihadapi hanya persoalan, karena harus menggembalakan jemaat yang "tuntutannya" beraneka rupa.

Pun demikian dengan apa yang saya dapatkan ketika saya memberikan pelatihan penulisan kepada para pemuka agama di kota Kebumen, Jawa Tengah saat liburan kemarin (20 Juli 2009).

Di acara itu, tanpa direncanakan -- apalagi disengaja -- saya bertemu dengan seorang bernama Poniman Kasturo. Usut punya usut, dia ternyada adalah adik kelas saya sewaktu kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta).

Ah, betapa keterlaluannya saya. Dia ternyata telah berteman dengan saya di Facebook. Permohonannya untuk berteman dengan saya telah saya approval lumayan lama. Karena itu saya harus berlapang dada membenarkan apa yang dikatakannya bahwa saya sombong ketika dia berdialog dengan saya. Sorry, ya Poniman.

Berkopi darat secara tidak sengaja dengannya di Kebumen, terasa hidup ini sangat singkat dan cepat berubah. Perubahan itu begitu revolusioner. Setidaknya itulah yang saya peroleh setelah mengetahui siapa sebenarnya sosok Poniman Kasturo.

Benar kata orang bijak di awal catatan ini, diri kita sekarang adalah apa yang kita pikirkan kemarin, dan siapa kita di kemudian hari adalah apa yang kita pikirkan sekarang.

Poniman Kasturo adalah anak kampung alias "cah ndeso." Dia dilahirkan di Desa Prembun, Kebumen, 40 tahun-an yang lalu. Selepas SMA, dia melanjutkan kuliah di STP/IISIP Jakarta. Tak sanggup bayar kuliah, karena orangtuanya tidak mampu, Poniman kemudian dipekerjakan di kampus dengan tugas aneka rupa, mulai dari urusan administrasi mahasiswa, penanggung jawab kebersihan ruangan rektor dan kantin hingga sekretaris rektor.

Nama Poniman Kasturo tentu terasa aneh di telinga para mahasiswa yang terbiasa dengan nama Johny, Robert, Albert, Rahadian dan nama-nama "impor" lainnya. Karena itu, Poniman sering diolok-olok rekan-rekannya sesama mahasiswa.

Yang saya tahu, dihadapkan dengan fakta seperti itu, Poniman tenang-tenang saja. Olok-olok seperti itu sering dibalas dengan senyuman. Dia memang tidak banyak omong dan cenderung pendiam; atau mungkin (saat itu) rendah diri. Sesekali saya melihat dia sedang menyapu dan mengepel lantai sekretariat kampus yang lokasinya di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Lulus dari perguruan tinggi swasta itu, Poniman Kasturo kemudian dipercaya menjadi dosen di sini. Sempat pula mengajar di perguruan tinggi lain. Setelah itu, saya tak tahu apa yang dilakukan Poniman. Hal ihwal tentang Poniman baru saya ketahui hari Senin (20 Juli) kemarin.

Poniman sekarang bukan lagi Poniman Kasturo 20 tahun yang lalu. Dia bukan lagi sosok yang pendiam dan rendah diri. Profesi awal sebagai akademisi dia telah tinggalkan beberapa tahun silam. Profesi barunya adalah pengusaha, konsultan dan pembicara publik. Sampai sekarang dia menjabat sebagai Ketua Umum Pengembangan Kepribadian Indonesia (HIMPRI). Belum lama berselang dia juga terpilih sebagai Ketua Umum Komite Olahraga Kabupaten (KOK) Kebumen periode 2009-2012. Dia juga sudah naik haji.

Banyak perusahaan besar yang memakai jasanya sebagai konsultan untuk melakukan pelatihan pengembangan diri dan kepemimpinan. Nama boleh ndeso, tapi Poniman bangga dengan nama pemberian orang tuanya. Bersama-sama temannya asal Kebumen, dia mendirikan yayasan Poniman Center.

Lewat yayasan ini, Haji Poniman Kasturo bermimpi masyarakat kampung halamannya sukses dan percaya diri, lalu mandiri seperti dirinya. Dia rindu masyarakat Kebumen berani berpikir positif hari ini untuk melahirkan Kebumen yang cerdas dan makmur di hari esok.

Caranya? Entahlah, biarlah Poniman Kasturo yang berpikir dan belajar. Yang pasti dia bangga menjadi cah ndeso, syukur-syukur bisa pulang kampung melalui sebuah "pertobatan." ***