Minggu, 07 September 2008

WRITENOW: UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL DAN MANAJEMEN MEDIA MASSA CETAK


WRITENOW (Senin 8 September 2008): Universitas Indonusa Esa Unggul adalah perguruan tinggi ketiga yang memberikan kepercayaan kepada saya untuk memberikan kuliah tentang pers. Persisnya, di sini saya diminta untuk mengajar mata kuliah Manajemen Media Massa Cetak.


Saya mulai mengajarkan mata kuliah Manajemen Media Massa Cetak di Universitas Indonusa Esa Unggul yang lokasi kampusnya di sisi jalan tol Kebun Jeruk-Tomang itu mulai hari Selasa (9 September 2008).

Dua perguruan tinggi lain yang juga pernah meminta saya untuk mengajar soal media massa adalah Universitas Paramadina dan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau IISIP Jakarta. Di IISIP, selain memberikan kuliah penulisan berita, saya juga mengajar mata kuliah manajemen media massa (tanpa cetak).

Oleh sebab itu saya merasa ada sesuatu yang 'baru' ketika pihak Universitas Indonusa Esa Unggul meminta saya memberikan materi kuliah manajemen media massa cetak. Sesuatu yang 'baru' yang menjadi pertanyaan saya adalah masih relevankah mahasiswa di era teknologi informasi yang tanpa batas ini mempelajari manajemen media massa cetak.

Sejarah manajemen media
massa cetak


Bukankah lebih pas kalau mahasiswa sekarang disiapkan untuk mempelajari sejarah manajemen media massa cetak atau sejarah manajemen media massa.

Mengapa? Sebab, menurut perkiraan banyak orang, cepat atau lambat media massa cetak, khususnya surat kabar akan mati. Kalaupun tetap hidup, dia bukan sebagai lembaga bisnis yang orientasinya mencari laba, tapi lembaga sosial yang memberikan koran gratis untuk komunitas-komunitas tertentu. Bahwa dari sini, perusahaan surat kabar mendapatkan iklan, itu lain soal.

Begitu pihak Universitas Indonusa Esa Unggul meminta saya memberikan kuliah, saya coba browsing ke Google dengan menggunakan kata kunci 'media massa cetak.' Ternyata tidak banyak web atau blog yang mengupas media massa cetak atau manajemen media massa cetak dalam konteks ilmu atau pengetahuan.

Buku-buku yang mengupas tentang manajemen media massa cetak juga amat jarang. Kalau pun ada, para penulis lebih banyak menyoroti media massa cetak dari sisi redaksi atau pemberitaan dengan segala aspeknya. Bisa dipahami, sebab pemberitaan atau berita dalam industri media massa cetak adalah roh atau nyawa. Dari sinilah kelangsungan hidup perusahaan media massa cetak dipertaruhkan.

Informasi yang saya peroleh dari internet, sebagian besar mengupas tentang perkiraan matinya media massa cetak. Pasalnya, industri media massa cetak sekarang ini sulit untuk bersaing dengan televisi, radio dan portal-portal berita, bahkan informasi-informasi (serius atau sampah) yang ditulis para blogger yang memanfaatkan era city journalism.

Memanaskan telinga pemilik industri
media massa cetak

Penulis buku Behind Indonesia's Headlines Christovita Wiloto dalam bukunya yang belum lama ini diluncurkan menulis bahwa sekitar 20 tahun lagi, media massa cetak akan mati. Ramalan ini jelas memanaskan telinga banyak pemilik dan pekerja di industri media massa cetak, termasuk para jurnalisnya.

Seiring dengan itu, menurut Christovita, Bill Gates pernah membuat prediksi bahwa internet akan menyatukan dunia, menjadi pemimpin industri media di masa depan dan media massa cetak akan mati.

Lalu jika media massa cetak benar-benar tinggal sejarah, apa yang akan terjadi? Yang pasti, para saksi mata peristiwa matinya media massa cetak itu di tahun 2020-2028 adalah anak-anak kita yang sekarang masih balita. Mereka, disebut Christovta Wiloto, sebagai generasi yang sangat akrab dengan tehnologi dunia maya tanpa batas yang sangat menarik dan interaktif.

Namun bukan berarti saat itu surat kabar, majalah, dan tabloid akan mati. Media massa cetak itu tetap akan hidup, namun tidak perlu diprint, alias dicetak. Hanya kalau memang user menginginkannya media-media itu dapat dicetak, bahkan berulang-ulang.

Christovita menggambarkan suasana itu hampir mirip dengan fenomena studio cuci cetak foto, yang saat ini mulai tampak berguguran semenjak tehnologi foto digital marak. Setiap orang tetap akan mendokumentasikan aktivitasnya, bahkan lebih sering dari sebelumnya, hanya soal cetak mencetak bukan merupakan keharusan, tergantung kebutuhan.

Sebenarnya kita tidak perlu menunggu tahun 2028, saat ini pun kecanggihnya teknologi komunikasi sudah tampak. Melalui bantuan satelit, stasiun televisi dapat menyiarkan peristiwa secara langsung dari tempat kejadian. Kita juga mudah sekali mengakses informasi apa pun melalui internet dengan search engine yang semakin canggih.

Perusahaan media massa cetak besar seperti Kompas dan Media Indonesia pun sekarang sudah memberikan napas baru kepada portal berita yang mereka miliki. Tampilan portal berita kedua perusahaan ini lebih aktraktif dan komunikatif, serta partisipasif, sebab memberikan kesempatan khalayak untuk berinteraksi.

Bentuk komunikasi horisontal seperti itulah yang disebut pakar marketing Indonesia Hermawan Kartajaya sebagai gelombang baru (new wave) yang memperpendek jarak antara produsen dan konsumen. Dalam era ini, pengelola media massa dituntut untuk memberi dan melayani daripada berharap dan mendapatkan.

Untuk memberikan servis baru buat pembacanya, Media Indonesia, Senin (8 September 2008) mengubah tampilan di hampir semua halamannya. Perwajahan dibuat lebih cantik dan ngepop dengan informasi yang lebih beragam.

Pembaca Media Indonesia pun diberi kesempatan berinteraksi -- bahkan secara langsung -- dengan para wartawannya, sebab di akhir naskah berita dicantumkan alamat e-mail sang wartawan. Artinya kalau ada pihak yang suka atau tidak dengan berita yang dibuat sang wartawan, mereka bisa langsung berkomunikasi.

Sangat mungkin, sang wartawan juga masih menyimpan banyak informasi lain yang belum sempat atau tidak cukup tempat untuk menuangkannya di halaman surat kabar. Bisa saja sang wartawan mempersilakan mereka yang ingin tahu informasi lebih dalam untuk mengunjungi blognya. Nah, lagi-lagi new wave telah mengubah segalanya.

Jika pun media massa cetak tetap masih hidup 20 tahun mendatang, entahlah bentuknya seperti apa lagi? Yang pasti di abad teknonologi informasi ini, menggeluti dunia komunikasi semakin mengasyikkan, tapi juga mendebarkan.

Tak ada waktu bagi pelaku industri media massa cetak untuk berdebat, kecuali langsung menerjunkan bahteranya ke new wave. Mereka diharapkan oleh Christovita, sebaiknya mulai mengatur strategi dengan mempersiapkan anak-anak kita. Kesadaran untuk memahami fenomena masa depan ini harus dimiliki Indonesia, agar Indonesia jangan terus menerus jadi underdog. Namun justru mampu memanfaatkan sebaik-baiknya momentum perubahan paradigma ini, agar kita yang kini tertinggal akan menjadi terkemuka di kemudian hari.***

Gantyo Koespradono
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Agar Tidak Tertinggal

Pakar marketing Hermawan Kartajaya mengungkapkan bahwa
gelombang baru (new wave) telah memungkinkan siapa pun untuk memberi dan menerima informasi -- juga mendapatkan keuntungan bisnis -- melalui dunia maya (internet) tanpa jarak. Siapa pun yang tidak masuk dalam gelombang ini, dipastikan akan tertinggal.

1 komentar:

asmono wikan mengatakan...

Pak Gantyo, salam kenal. Wah, rupanya bapak banyak menulis soal-soal media massa. Sebuah genre tulisan yang memang jarang ada. Kalo tidak keberatan, silakan mampir di blog saya juga ya pak, isinya tentang industri media, pr, dan periklanan. Alamatnya di www.asmonowikan.com atau juga http://asmonowikan.wordpress.com.

Salam sukses selalu untuk pak Gantyo...