Jumat, 12 Desember 2008

KICK ANDY| KOES PLUS| BERKUMPUL KEMBALI


WRITENOW (Kamis 11 Desember 2008): Karena Koes Bersaudara/Plus masih dibicarakan banyak orang, mendorong saya untuk menulis catatan tentang Koes Plus saat mereka (lengkap) untuk kali pertama tampil di depan publik lewat acara Kick Andy yang ditayangkan Metro TV, Jumat 21 November 2008.


Tampilnya anggota Koes Bersaudara secara lengkap di Kick Andy malam itu menjadi fenomena tersendiri. Pasalnya, sudah lebih dari 30 tahun, anggota Koes Bersaudara (Yon, Yok, Nomo) tidak pernah muncul di depan publik bersama-sama. Juga ketika Koes Plus lahir hingga Tony Koeswoyo meninggal dunia. Saudara mereka paling tua, Djon Koeswoyo bahkan ikut tampil di Kick Andy.


Fakta bahwa mereka tidak pernah muncul bersama di depan para penggemarnya memunculkan spekulasi di masyarakat – juga pers – bahwa keluarga Koeswoyo benar-benar telah bubar. Mereka tidak akur dan berjalan sendiri-sendiri. Bahkan ada yang menyimpulkan, antaranggota keluarga saling bermusuhan.


Oleh sebab itu hadirnya mereka di Kick Andy, Jumat malam yang tayangan ulangnya disiarkan Minggu (23 November) sebagai sesuatu yang mengejutkan. Djon, Yon, Nomo, dan Yok bersendagurau dalam Kick Andy yang dipandu Andy Noya. Acara yang lazimya cuma berdurasi 1,5 jam diperpanjang menjadi dua jam.


Gara-gara tampil di Kick Andy, penggemar Koes Plus Mania yang setiap Jumat pukul 22.00 disiarkan di Radi Sonora pun malam itu “terganggu”, karena mereka melakukan dua “pekerjaan” sekaligus, yaitu mendengarkan radio sambil menonton televisi (Kick Andy).


Siapa yang tidak kenal Koes Bersaudara dan Koes Plus. Apalagi masyarakat Indonesia yang kini berusia 40-60 tahun, semuanya pasti kenal. Siapa yang tidak tahu lagu “Telaga Sunyi” yang dinyanyikan Koes Bersaudara tahun 1960-an yang syairnya seperti ini:



Di kala sang bulan purnama

Bersinar di atas telaga
Terdengar suara menggema
Melagukan balada tua



Kisah seorang putri
Yang telah patah hati
Lalu bunuh diri
Tenggelam di telaga sunyi
Bersama cintanya yang murni


Syairnya begitu sederhana, demikian pula dengan chord-nya yang dikenal dengan tiga jurus. Maksudnya, kunci nada lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus hanya tiga, yaitu pasangan kunci D, A, G, atau C, F, G.


Namun kesederhanaan nada dan lagu ciptaannya itulah yang membuat lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus mudah dicerna oleh siapa pun dan sering dinyanyikan oleh generasi masa kini. Koes Bersaudara dan Koes Plus dikenal secara luas dan baik sampai sekarang, sebab merekalah kelompok band pertama di Indonesia.


Koes Plus yang beranggotakan Tony Koeswoyo, Yon, Yok dan Murry memang sudah tidak ada lagi. Tony telah tiada, Yok asyik dengan dunianya sendiri, sementara Murry dalam keadaan sakit. Dia mengidap penyakit diabetes dan hernia. Yang masih aktif menyanyi hanya Yon Koeswoyo yang tetap menghidupkan Koes Bersaudara/Plus dengan membentuk Koes Plus Pembaruan dengan merekrut anak-anak muda, seperti Seno (drum), Sony (bass), dan Danang (gitar/keyboard).


Mereka bergabung dengan Yon pada tahun 2004. Pembentukan Koes Plus Pembaruan ini, menurut Yon, dilakukan secara tidak sengaja setelah dia sering melihat anak-anak muda itu menyanyikan lagu-lagu Koes Plus dengan fasih. Setelah Koes Plus Pembaruan terbentuk, mereka kerap manggung ke berbagai kota, dan lahirlah lagu “Song of Porong.”


Lagu-lagu yang diciptakan keluarga Koeswoyo memang sarat dengan cinta Tanah Air. Tampil di Kick Andy, Koes Plus Pembaruan menyanyikan lagu “Kolam Susu” yang diciptakan Yok Koeswoyo. Lagu ini melukiskan betapa suburnya bumi Indonesia, sehingga tongkat dan batu pun bisa tumbuh menjadi tanaman. Dalam perjalanan berikutnya, diciptakanlah lagu serial “Nusantara.”


Menjawab pertanyaan Andy Noya, host Kick Andy, Yon menjelaskan, lagu-lagu itu diciptakan setelah mereka menyaksikan dari udara saat naik pesawat terbang, betapa indahnya pemandangan Indonesia. “Dari atas saya lihat betapa indahnya Nusantara,” ujar Yon.


Pada mulanya sebelum ada Koes Bersaudara, mereka telah membentuk grup band bernama Koes Brothers, ingin mengikuti jejak sukses Everly Brothers. Koes Brothers dibentuk sebelum tahun 1960. Lagu-lagu yang mereka nyanyikan bukan ciptaan mereka sendiri, tapi lagu-lagu yang telah ada, seperti “Onde-Onde” dan sebagainya.


Setelah mereka membantuk Koes Bersaudara, barulah mereka menciptakan lagu sendiri, antara lain adalah “Telaga Sunyi”. Lagu ini benar-benar sangat populer pada tahun 1960-an. Anak SD hingga orang dewasa fasih menyanyikan lagu yang irama dan syairnya sangat menyayat hati ini.


Gara-gara lagu yang berirama seperti itulah, mereka dipenjara, karena oleh Bung Karno, lagu-lagu Koes Bersaudara dianggap cengeng, tidak memberikan dan membangun spirit bangsa yang saat itu tengah berkonfrontasi dengan Malaysia. Bung Karno juga menganggap, lagu-lagu Koes Bersaudara berbau kebarat-baratan; sangat kontraproduktif dengan semangat Bung Karno yang waktu itu antibarat (enyahlah Amerika).


Tiga bulan Tony, Yok, Nomo dan Yon dipenjara di penjara Glodok, Jakarta Barat. Di dalam penjara, Tony Koeswoyo sempat pula menciptakan lagu berjudul “Di Dalam Bui.” Mengapa mereka masuk bui? “Kami dianggap memusuhi pemerintahan Bung Karno,” kata Yok.


Dendamkah mereka kepada Soekarno? Tidak. Meskipun telah memenjarakan mereka, “Bung Karno di mata saya adalah pemimpin besar kaliber dunia. Lihat, setelah Bung Karno berpidato di depan sidang PBB pada tahun 1959, berapa negara yang kemudian merdeka. Jadi kami tidak dendam,” ujar Yok.


Nomo menambahkan, Bung Karno, Pak Harto, Gus Dur, SBY dan lain-lain punya jasa besar untuk bangsa ini. “Yang baik-baik mari kita ambil untuk kemajuan Nusantara,” katanya.


Tidak banyak yang mengetahui sebelum Koes Plus dan Koes Bersaudara eksis di masanya, ada saudara paling tua keluarga Koeswoyo yang juga punya peran suksesnya Koes Bersaudara, yaitu Djon Koeswoyo. Di Koes Bersaudara, Djon memegang bas betot. Usia Djon kini 76 tahun. Setelah Koes Bersaudara menelurkan album pertama, pada tahun 1964, Djon mengundurkan diri. “Tugas saya memang hanya merintis lahirnya Koes Bersaudara. Jadi saya selamat tidak sempat dipenjara,” kata Djon bergurau.


Djon kini banyak memanfaatkan waktunya untuk menulis. “Lelakone Urip” adalah salah satu judul buku yang ditulisnya, berisi tentang makna hidup dan kehidupan.


Menceritakan masa kecil, Djon mengungkapkan, “Kami semua nakal-nakal.” Disebutkan, Yok pernah memukul kepala Nomo dengan kayu kaso. Lalu apa kiat keluarga Koeswoyo sukses di dunia musik? Djon mengatakan, ‘karena kami melakukannya dengan hati.”


Lalu tentang isu keluarga Koeswoyo pecah? Djon, Yok, Yon dan Nomo mengatakan tidak benar jika ada yang mengatakan keluarga Koeswoyo pecah dan konflik. “Dari dulu kami selalu kompak. Di keluarga, kami akur-akur saja, kok,” kata mereka.


Bahwa mereka tidak bersatu di Koes Plus, karena mereka punya kesibukan sendiri-sendiri, sekaligus berkreativitas mengembangkan seni. Nomo sempat membentuk Nokoes dan Nobo yang oleh Nomo diplesetkan “bukan Koes” (Nokoes), dan Nomo bodoh (Nobo). Belakangan Nomo lebih menekuni bisnis ketimbang musik.


Upaya menghidupkan kembali Koes Plus memang tidak mudah, begitu pula mempertemukan mereka. Oleh sebab itu kemunculan mereka secara bersama-sama di Kick Andy merupakan kejutan. Mereka sudah menua.


Sejak meninggalnya Tony Koeswoyo, sebagaimana diakui Yon dan Yok, mereka memang sempat guncang. Murry pun sudah sakit-sakitan. Di mata Yon, Murry dengan tabuhan drumnya sangat istimewa.


Jika pun Koes Plus (Koes Plus Pembaruan) dengan Yon Koeswoyo masih eksis sampai sekarang, itu berkat kegigihan Ais Suhana, mantan manajer Koes Plus. Dia tergerak untuk menyatukan kembali Koes Plus pada tahun 1993, karena fakta tidak bisa dimungkiri, penggemar Koes Plus masih banyak. “Saya salut, sebab pada tahun-tahun itu, Koes Plus masih mau manggung,” katanya.


Yon sendiri mengatakan akan terus bernyanyi sampai mati. “Saya senang jika diajak manggung,” katanya .


Lalu bagaimana dengan Yok? Apakah mau rekaman lagi, Tanya Andi Noya. Ditanya seperti itu, Yok bergurau: “Gimana mau rekaman, dengkul kami sudah kopong (kosong).”


Apa pun yang dilakukan keluarga Koeswoyo, Koes Plus telah mengukir sejarah musik di negeri ini sebagai grup band paling banyak menelorkan album (93) dan 900 buah lagu. Luar biasa!



Gantyo Koespradono



2 komentar:

Alfa mengatakan...

Mereka memang grup musik yang luar biasa. Syair yang mereka buat begitu sederhana, tetapi sangat menyentuh. Salut kepada Koes Bersaudara, Koes Plus, Koes Plus Pembaruan & No Koes. Mudah2an nama besar mereka terus abadi. Amien.

Anonim mengatakan...

lagu2 mereka memang luar biasa..
merekalah legend musik indonesia yang abadi dengan karya2 yang menawan..
walaupun masa kejayaan mereka sudah lewat.,tapi lagu mereka awet sampai sekarang dan tidak lekang dimakan waktu..!